
KEDIRI, Satuwarta.id — Pemadaman listrik yang terjadi berulang kali selama dua pekan terakhir di Kota dan Kabupaten Kediri berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga. Sejumlah pedagang dan pelaku usaha kecil melaporkan penurunan omzet hingga separuh, sementara PLN hingga kini belum memberikan penjelasan resmi.
Depo Air hingga Laundry, Semua Terdampak
Fahrulli (48), pemilik depo air isi ulang di Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, mengaku hanya bisa pasrah setiap kali listrik tiba-tiba padam. Seluruh operasional deponya — mulai dari mesin pompa air, sistem filtrasi, hingga sterilisasi ultraviolet — bergantung penuh pada pasokan listrik.
Pada Kamis (18/6/2026), saat pemadaman berlangsung lebih dari tiga jam, penjualannya yang biasanya mencapai 60 galon per hari hanya terealisasi sekitar 30 galon. Omzetnya pun turun sekitar 50 persen.
“Ini cukup meresahkan bagi kami. Kalau listrik padam, otomatis tidak bisa bekerja,” keluhnya.
Kondisi serupa dialami Wahyudi, pemilik usaha air isi ulang di Kelurahan Mojoroto. Ia menyebut banyak pelanggannya yang kebingungan, terutama pedagang es yang stok bahan bakunya langsung habis ketika alat pres tidak bisa beroperasi. Omzetnya pun menyusut lebih dari separuh.
Arista (38), pemilik usaha laundry di Kecamatan Kota, mengalami kerugian berbeda. Pemadaman panjang pada malam 18 Juni membuat proses pencucian molor dan sejumlah pelanggan beralih ke laundry lain yang memiliki genset. Omzetnya turun lebih dari 40 persen.
“Pelanggan pilih ke laundry lain yang punya genset,” ujarnya.
Pemadaman Luas, Tanpa Pemberitahuan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pada Kamis (18/6) malam, pemadaman listrik terjadi di sejumlah kelurahan di Kota Kediri, meliputi Bandarkidul, Bandarlor, Campurejo, Dermo, Banjarmlati, Bujel, Mojoroto, Tamanan, Mrican, Pojok, dan Lirboyo. Listrik mulai padam sekitar pukul 18.00 dan baru menyala lebih dari tiga jam kemudian.
Di wilayah Kabupaten Kediri, pemadaman terjadi di sejumlah desa, antara lain Banyakan, Bulu, Grogol, Jatirejo, Kalipang, Gambyok, Datengan, Manyaran, Jabon, Ngablak, Parang, Sidomulyo, dan Tiron. Wilayah timur sungai juga terdampak, termasuk sebagian Desa Sambirejo, Kwadungan, dan Karangrejo.
Yang membuat warga kian kesal, pemadaman terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sriwahyuni (52), pelaku usaha kue rumahan di Desa Gampengrejo, Kabupaten Kediri, mengaku tidak sempat berantisipasi saat listrik tiba-tiba mati tengah malam ketika ia sedang menyelesaikan pesanan.
“Pas mengerjakan pesanan kue, tiba-tiba listrik mati. Produksi langsung berhenti,” tuturnya. Dengan hanya berbekal lilin, ia terpaksa begadang semalam penuh demi menyelesaikan pesanan yang seharusnya kelar pukul 21.00.
Di Kecamatan Wates, pemadaman pada Kamis siang (19/6) juga membuat banyak unit usaha mendadak tutup. “Mau ke bengkel tapi tidak bisa dilayani karena listrik mati,” kata Hartatik (45), warga setempat.
Di Balik Keluhan, Ada yang Justru Ketiban Rezeki
Di tengah keluhan yang meluas, sebagian pedagang justru meraup keuntungan. Penjualan lampu darurat (emergency lamp) melonjak tajam di sejumlah toko peralatan listrik.
Kevin, pemilik toko di kawasan Joyoboyo, Kota Kediri, menyebut sudah menjual 30 unit lampu darurat hanya dalam satu malam. Bambang, pemilik toko listrik di Kelurahan Dandangan, mencatat penjualan 5 hingga 10 unit per hari dengan harga berkisar Rp 40.000 hingga Rp 100.000, dengan pembeli yang datang pula dari wilayah Kabupaten Kediri.
Genset pun ikut diburu. Lugi, pemilik toko Perdana Teknik di Jalan Dhoho, mengatakan penjualan genset konsisten satu hingga dua unit per hari sejak pemadaman bergilir mulai terjadi.
PLN Belum Beri Penjelasan
Meski pemadaman telah berlangsung sekitar dua pekan dan berdampak luas, PLN memilih bungkam. Humas PLN Area Pelayanan Jaringan (APJ) Kediri, Rudi, tidak merespons pesan yang dikirim melalui WhatsApp.
Seorang petugas PLN yang ditemui langsung di kantornya pun enggan memberikan penjelasan, dengan alasan bahwa pimpinannya sedang dinas luar.
“Mohon maaf, yang berhak menjawab pimpinan saya. Namun saat ini beliau sedang tugas dinas luar,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari PLN mengenai penyebab maupun jadwal pemadaman bergilir yang terus meresahkan warga Kediri tersebut. (*)



