SPMB 2026 Usai, Dua SD Negeri di Kediri Ini Hanya Dapat 2 Siswa Baru, Tahun Lalu Nol

KEDIRI, Satuwarta.id — Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kabupaten Kediri resmi ditutup pada Kamis (18/6/2026). Namun bagi dua sekolah dasar negeri, penutupan itu meninggalkan pemandangan yang berat: masing-masing hanya berhasil menjaring dua siswa baru.
Dua sekolah itu adalah SDN Simbar 1 di Kecamatan Plosoklaten dan SDN Mojosari 1 di Kecamatan Kras. Yang membuat angka itu terasa pahit sekaligus lega — tahun lalu, keduanya sama sekali tidak mendapat murid baru.
Tahun Lalu Nol, Tahun Ini Dua: “Alhamdulillah”
Panitia SPMB SDN Simbar 1, Alvian Ardinata, mengakui dua pendaftar itu terasa seperti sebuah pencapaian dibanding capaian tahun 2025. Kala itu, satu calon siswa yang sempat mendaftar pun harus ditolak karena usianya baru lima tahun delapan bulan — kurang empat bulan dari syarat minimal masuk kelas satu SD. Meskipun ditolak calon siswa tersebut tetap belajar di SDN Simbar 1, tetapi data tidak masuk ke data pendidikan.
“Alhamdulillah sampai saat ini sudah mendapat dua siswa baru,” ujar Alvian.
Anak yang sempat ditolak tahun lalu kini usianya sudah memenuhi syarat dan resmi masuk data peserta didik baru tahun ini. Satu siswa lagi adalah pendaftar baru yang mendaftar di SPMB 2026 ini.
Bukan Soal Minat, tapi Soal Jumlah Penduduk
Alvian menepis anggapan bahwa sepinya peminat mencerminkan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri. Masalahnya lebih mendasar dari itu: kampungnya memang sangat kecil.
Dusun Simbarlor, wilayah layanan SDN Simbar 1, hanya dihuni sekitar 35 kepala keluarga. Lokasinya pun terpencil, berjarak empat hingga lima kilometer dari jalan raya.
“Memang kampungnya kecil dan terpencil. Jadi bukan karena sekolahnya tidak diminati, tetapi memang jumlah anak usia sekolah sangat sedikit,” kata Alvian.
Ia pun memberi peringatan yang lebih suram untuk tahun-tahun ke depan: bukan tidak mungkin sekolah kembali tidak mendapat siswa sama sekali, karena memang tidak ada anak yang memasuki usia sekolah dasar di sana.
Cerita berbeda datang dari SDN Mojosari 1. Kepala sekolah Alvi Na’imah menyebut dua madrasah ibtidaiyah (MI) yang berdiri persis di sekitar sekolah menjadi faktor utama kesepiaan mereka — satu berjarak 500 meter, satu lagi satu kilometer.
Masyarakat, kata Alvi, lebih memilih menyekolahkan anak di lembaga berbasis agama tersebut.
Seragam Gratis hingga Tabungan, Tapi Kursi Tetap Sepi
Untuk menarik peminat, SDN Mojosari 1 tidak tinggal diam. Sekolah memperkuat program keagamaan — salat duha, hafalan surat pendek, hingga baca tulis Al-Quran — demi menjawab kebutuhan orang tua yang selama ini dinilai hanya bisa dipenuhi madrasah.
Di SPMB tahun ini, sekolah bahkan menyiapkan paket lengkap bagi siswa baru: seragam, tas, alat tulis, tabungan, dan seluruh biaya pendidikan digratiskan.
“Program sekolah terus kami perbaiki. Kami juga memberikan gratis seragam, tas, alat tulis, tabungan, dan biaya sekolah gratis,” ujar Alvi.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin menyatakan, sekolah yang masih kekurangan murid diperbolehkan membuka pendaftaran offline hingga sebelum tahun ajaran 2026/2027 dimulai. Artinya, angka dua siswa itu masih berpeluang bertambah.
Secara keseluruhan, SPMB 2026 di Kabupaten Kediri mencatat total 24.293 pendaftar di berbagai jenjang: 13.261 siswa untuk jenjang SMP, 10.974 untuk SD, dan 58 untuk TK. (*)



