Mbak Dina Komitmen Tingkatkan Budaya Lokal, Lakon “Lahirnya Wisanggeni” Meriahkan Kelurahan Tosaren

satuwarta.id – Perhelatan wayang kulit dengan lakon “Lahirnya Wisanggeni” memeriahkan lingkungan kelurahan Tosaren, Kota Kediri, Sabtu, (14/12/2025). Dibawakan oleh Dalang Ki Eko Kondho Prisdianto, perhelatan ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal, khususnya seni pewayangan yang sarat akan nilai-nilai luhur.
Tokoh Wisanggeni dalam kisah pewayangan dikenal sebagai putra Arjuna yang lahir dari seorang bidadari bernama Batari Dresanala. Wisanggeni merupakan sosok istimewa yang memiliki karakter pemberani, tegas dalam bersikap, serta dianugerahi kesaktian luar biasa.
Anggota DPRD Kota Kediri Dinaya Kristian, menyampaikan bahwa kegiatan pagelaran wayang kulit tersebut merupakan hasil dari aspirasi masyarakat. Ia menegaskan bahwa baik pagelaran wayang maupun lakon yang ditampilkan sepenuhnya merupakan gagasan dari warga. “Mengusung lakon Lahirnya Wisanggeni. Baik pagelarannya maupun lakonnya, semuanya berasal dari permintaan warga,” ujar Dinaya Kristian.
Wanita yang juga Ketua Fraksi PAN DPRD Kota Kediri tersebut menuturkan, bersama parade budaya yang telah digelar sebelumnya, pagelaran wayang kulit ini menjadi bentuk nyata pelestarian budaya. “Ini juga komitmen pelestarian budaya khususnya di Kelurahan Tosaren, yang memang rutin menggelar pagelaran wayang kulit,” ujar Mbak Dina, sapaan akrabnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Kediri Firdaus, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menyebut bahwa realisasi aspirasi masyarakat dalam bentuk pagelaran budaya merupakan sebuah “rezeki”, karena dapat dikelola dan dilaksanakan langsung oleh masyarakat. “Ini adalah aspirasi masyarakat yang kemudian bisa direalisasikan dan dikelola oleh masyarakat itu sendiri. Itu yang saya sebut sebagai rezeki,” ungkap Firdaus.
Firdaus menegaskan pentingnya menghidupkan kembali budaya lokal agar dapat terus diwariskan kepada generasi muda. “Budaya harus terus diunggah dan dihidupkan, agar anak-anak dan generasi di bawah kita mengerti serta mengenal budaya mereka sendiri,” pungkasnya. tam



