Kinerja APBN Kediri Raya Februari 2026: Pendapatan Tertekan, Belanja dan Kredit Tetap Tumbuh
satuwarta.id – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Kediri Raya hingga Februari 2026 secara tahunan (year on year/YoY) menunjukkan dinamika yang beragam. Di satu sisi terjadi penurunan pada pendapatan dan belanja negara, namun secara umum kinerja keuangan masih menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun.
Dari sisi pendapatan, penerimaan negara tercatat mengalami kontraksi pada sektor perpajakan, namun diimbangi dengan pertumbuhan pada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Secara rinci, penerimaan perpajakan terkontraksi sebesar 10,53 persen, sementara PNBP justru tumbuh signifikan sebesar 26,28 persen secara YoY.
“Hingga akhir Februari 2026, total pendapatan negara di Kediri Raya mencapai Rp 3.245,23 miliar. Dari jumlah tersebut, kontribusi terbesar berasal dari sektor perpajakan sebesar Rp 3.163,77 miliar, sedangkan PNBP menyumbang Rp 81,46 miliar,” ungkap Kepala KPPN Kediri Moch. Izma Nur Choironi, Selasa, (31/03/2026).
Sementara itu, dari sisi belanja, realisasi APBN di Kediri Raya telah mencapai 21 persen atau sebesar Rp 1.499,25 miliar. Belanja tersebut terdiri dari belanja pegawai sebesar Rp 125,90 miliar, belanja barang Rp 68,4 miliar, serta belanja modal Rp 5,57 miliar.
Dilihat dari distribusi wilayah, Kabupaten Kediri menjadi daerah dengan serapan belanja tertinggi, yakni sebesar Rp 231,923 miliar. Disusul Kabupaten Nganjuk sebesar Rp 195,105 miliar, Kabupaten Trenggalek Rp 170,526 miliar, dan Kota Kediri sebesar Rp 147,857 miliar.
Adapun belanja transfer ke daerah secara YoY mengalami kontraksi sebesar 13,73 persen. Rinciannya, Dana Bagi Hasil telah terserap Rp 13,15 miliar, Dana Alokasi Umum Rp 917,97 miliar, serta Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik sebesar Rp 340,45 miliar. Sementara itu, DAK Fisik dan insentif fiskal belum menunjukkan realisasi, serta Dana Desa tercatat sebesar Rp 27,81 miliar.
Di tengah tekanan tersebut, penyaluran kredit program justru menunjukkan kinerja yang cukup positif. Hingga Februari 2026, nilai penyaluran kredit program tumbuh 8,80 persen secara YoY menjadi Rp 933,88 miliar, meskipun jumlah debitur mengalami penurunan 6,05 persen menjadi 19.314 debitur.
Hal serupa juga terjadi pada Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang mencatat pertumbuhan nilai penyaluran sebesar 8,88 persen menjadi Rp 920,79 miliar, dengan jumlah debitur 16.689 atau turun 4,92 persen secara YoY. Sementara itu, penyaluran Ultra Mikro (UMi) juga mengalami pertumbuhan nilai sebesar 3,18 persen menjadi Rp 13,10 miliar, meskipun jumlah debitur turun 12,65 persen menjadi 2.625 debitur.
Secara keseluruhan, kinerja APBN di Kediri Raya masih terjaga dengan baik dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini menjadi capaian positif di tengah ketidakpastian ekonomi global, termasuk dampak konflik geopolitik seperti perang di kawasan Timur Tengah pada tahun 2026.tam



