Klaim Patahkan Kekuatan Nuklir, Trump Sesumbar Akhiri Perang Iran dalam 2-3 Pekan di Tengah Syarat Ketat Teheran

Satuwarta.id — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meyakini bahwa perang antara negaranya dan Iran akan menemui titik akhir dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan. Keyakinan tersebut didasari oleh klaim sepihak AS dan Israel yang merasa telah berhasil melumpuhkan kemampuan nuklir serta kekuatan militer utama Teheran.
Di sisi lain, peluang terjadinya gencatan senjata melalui jalur diplomasi tampaknya masih terjal. Teheran bersikeras bahwa penghentian konflik tidak akan terjadi tanpa syarat. Pemerintah Iran mengajukan lima tuntutan utama, yang beberapa di antaranya berpotensi ditolak mentah-mentah oleh Washington.
Dalam pernyataannya pada Selasa (31/3/2026), Trump secara terbuka membeberkan cetak biru strateginya di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa pergantian rezim (regime change) di Iran sejak awal bukanlah tujuan utamanya. Fokus utama AS, menurut Trump, adalah memastikan Iran lumpuh secara kapasitas nuklir.
“Saya punya satu tujuan: mereka tidak akan memiliki senjata nuklir, dan tujuan itu telah tercapai. Namun, kami sedang menyelesaikan pekerjaan ini, dan saya pikir dalam waktu mungkin dua minggu, atau beberapa hari lebih lama, kami ingin menghancurkan setiap hal yang mereka miliki,” tegas Trump.
Lebih lanjut, Trump secara eksplisit menyatakan akan terus menargetkan infrastruktur vital militer dan sipil Iran, termasuk jembatan-jembatan strategis, demi menekan Teheran agar mau duduk di meja perundingan. Kendati membuka peluang negosiasi, Trump dengan percaya diri mengklaim bahwa tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan AS akan membuat Iran membutuhkan waktu hingga 20 tahun hanya untuk membangun kembali apa yang telah dihancurkan.
Klaim kemenangan dan superioritas ini juga diamini oleh sekutu utama AS di kawasan, Israel. Militer Israel sesumbar bahwa mereka telah berhasil mematahkan cincin kekuatan proksi dan militer Iran yang selama ini mengepung wilayah negara zionis tersebut.
Merespons tekanan dan ancaman gempuran lanjutan dari AS, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil sikap tidak kalah keras. Pada Senin sebelumnya, Pezeshkian menegaskan bahwa setiap keputusan dari Teheran terkait perang melawan AS dan Israel mutlak harus berpijak pada kepentingan nasional, keamanan, dan martabat bangsa Iran.
Dalam pidato berbahasa Farsi, Pezeshkian juga berupaya menenangkan rakyatnya. Ia memastikan bahwa mesin pemerintahan, baik di tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten, akan terus berjalan dengan seluruh kekuatan demi melayani masyarakat, meski di tengah kecamuk perang.
Sikap pantang menyerah Teheran ini diwujudkan dalam lima prasyarat mutlak yang diajukan untuk menghentikan perang, yakni:
- Gencatan Senjata Permanen: Penghentian pertempuran secara permanen serta penghentian operasi pembunuhan yang menargetkan para pejabat tinggi Iran.
- Jaminan Keamanan: Adanya jaminan pasti bahwa tidak akan ada lagi invasi atau perang lanjutan terhadap Iran di masa mendatang.
- Penghentian Permusuhan Regional: Penghentian permusuhan secara menyeluruh di semua lini yang juga mencakup kelompok-kelompok sekutu Iran di kawasan Timur Tengah.
- Kompensasi Perang: Pembayaran ganti rugi dan kompensasi dari pihak penyerang atas seluruh kerusakan yang ditimbulkan di Iran akibat perang saat ini.
- Kedaulatan Maritim: Pengakuan dunia atas kedaulatan serta kendali penuh Iran di perairan strategis Selat Hormuz.
Melihat dinamika tuntutan dari kedua belah pihak, sinyalemen perdamaian justru terasa semakin jauh. Ambisi Trump yang menargetkan penyelesaian operasi militer dalam dua hingga tiga pekan ke depan sama sekali tidak merefleksikan adanya niat untuk mengakomodasi syarat-syarat ganti rugi maupun penyerahan kendali Selat Hormuz kepada Iran.
Sebaliknya, Amerika Serikat tampaknya mantap memilih untuk terus menggunakan kekuatan militer destruktif demi memaksa Iran tunduk. Pertanyaannya kini, apakah aliansi AS-Israel akan berhasil memaksa Iran menyerah lewat jalur perang total, atau kebuntuan ini akan berujung pada eskalasi yang jauh lebih panjang dari “dua hingga tiga pekan” yang dijanjikan Donald Trump? (*)