Keuangan

Mengarungi Badai IHSG 2026: Rasionalitas Pasar, Rotasi Sektor, dan Strategi ‘Serok Bawah’ ala Rivan Kurniawan

JAKARTA – Pasar saham Indonesia kembali dihadapkan pada ujian berat. Di kuartal pertama tahun 2026 ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam hingga menyentuh level 7.500-an, terpuruk sekitar 12,4% sejak awal tahun. Kepanikan pasar ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah dengan ketidakpastian kebijakan di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Namun, di saat mayoritas investor ritel dilanda kepanikan dan sibuk memotong kerugian (cut loss), investor fundamental Rivan Kurniawan justru melihat momentum ini dari kacamata yang berbeda. Dalam diskusinya bersama Leon Hartono, Rivan membedah secara mendalam mengapa krisis kali ini menyimpan peluang emas yang sayang untuk dilewatkan.

Bukan Fundamental yang Retak, Hanya Sentimen Sesaat Kunci pertama dalam menghadapi market crash adalah objektivitas. Rivan menegaskan bahwa penurunan harga saham saat ini murni disebabkan oleh isu eksternal, bukan karena kerusakan fundamental perusahaan. Konflik yang terjadi tidak bermotif menghancurkan perekonomian negara, melainkan lebih pada ketegangan rezim yang bersifat temporer.

Lebih lanjut, Rivan menyoroti perbedaan krusial antara kondisi makroekonomi saat ini dibandingkan saat meletusnya konflik Rusia-Ukraina atau ketegangan Timur Tengah di tahun 2024.

“Waktu di 2024, The Fed masih hawkish mempertahankan suku bunga tinggi, dan indeks dolar sangat kuat. Sekarang kondisinya berbalik; Fed Fund Rate dalam tren menurun dan indeks dolar melemah. Ini membuat penurunan IHSG akan lebih terbatas dan pantulannya (rebound) akan jauh lebih cepat,” jelas Rivan. Ia meyakini level 7.500-7.600 adalah titik support yang sangat kuat bagi IHSG.

Seni Manajemen Portofolio: Cash is King Dalam praktiknya, Rivan tidak menyarankan investor untuk bertindak gegabah dengan strategi all-in. Pentingnya memegang cadangan uang tunai (cash) menjadi penyelamat utama di masa krisis. Rivan sendiri mengaku menggunakan kasnya yang tersisa sekitar 15-30% untuk perlahan menambah muatan (akumulasi beli) pada saham-saham berfundamental solid yang sedang salah harga menggunakan fitur Good Till Cancelled (GTC).

Satu pelajaran penting yang dibagikan adalah bagaimana rotasi portofolio bekerja. Portofolio pertamanya, yang berisi saham-saham high-flyer (sudah naik puluhan hingga ratusan persen), mengalami drawdown atau penurunan valuasi yang cukup dalam karena aksi ambil untung (profit taking) pasar. Sebaliknya, portofolio keduanya yang berisi saham-saham yang belum terlalu terapresiasi harganya terbukti jauh lebih tangguh (resilient), dengan penurunan yang sangat terbatas.

Rotasi Sektor dan Saham Pilihan (Studi Kasus) Berdasarkan analisis nilai intrinsik dan prospek pertumbuhan, Rivan membedah beberapa sektor dan emiten yang menurutnya memiliki daya tarik tinggi di harga saat ini:

  • Perbankan Besar (BBRI): Menariknya, Rivan menyingkirkan BBCA karena valuasinya yang premium dan risiko outflow asing akibat struktur free float baru. Pilihannya jatuh pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Alasannya? BBRI memiliki rasio dana murah (CASA) yang rendah, sehingga jika tren suku bunga turun, mereka akan paling diuntungkan dari penurunan beban bunga (cost of fund). Selain itu, BBRI mulai melakukan penetrasi ke segmen korporasi untuk memitigasi risiko kredit macet (NPL) di segmen mikro.
  • Perbankan Syariah (BRIS): Untuk bank lapis kedua, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi primadona. BRIS dinilai memiliki economic moat (parit ekonomi) yang sangat lebar dengan aset jauh meninggalkan pesaing terdekatnya. Potensi pasarnya masih raksasa mengingat populasi muslim Indonesia yang besar namun tingkat inklusi perbankan syariahnya masih memiliki ruang tumbuh yang eksponensial.
  • Ritel Premium dan EV (ERAL): Sebagai “kartu as”, Rivan menyoroti PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAL) dan PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) sebagai saham turnaround. Khusus untuk ERAL, emiten ini dinilai kebal badai inflasi karena menyasar kelas menengah atas. Distribusi mobil listrik premium seperti Xpeng (seharga Rp 900 juta – Rp 1,1 miliar) dan ekspansi JD Sports menjadi katalis unlock value yang belum sepenuhnya dihargai oleh pasar.
  • Properti (BSDE): Di sektor properti, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dinilai memiliki valuasi termurah dengan cadangan lahan (landbank) terluas yang diakuisisi dengan harga sangat murah puluhan tahun lalu, menciptakan margin laba kotor yang sangat tebal.
  • Komoditas (ADRO & NCKL): Di sektor batu bara, Adaro (disebutkan terafiliasi dengan Boy Thohir) dipilih karena manajemennya yang kini fokus murni pada batu bara usai spin-off dan bebas dari jerat masalah RKAB 2026. Sementara untuk nikel, NCKL dipilih karena valuasinya yang relatif lebih murah dan kemampuannya menyuplai nikel baik untuk pasar Electric Vehicle (EV) maupun pembangkit listrik.

Melawan Arus untuk Menang Pada akhirnya, investasi di bursa saham adalah permainan psikologi. “Kalau kita selalu mengikuti psikologi pasar, kecenderungannya kita akan merugi. Kita harus berani against the market. Beli di saat merah dan penuh kepanikan, jual di saat hijau dan euforia tinggi,” tutup Rivan.

Bagi para investor, koreksi IHSG kali ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan momen seleksi alam. Perusahaan dengan fundamental kokoh akan selalu menemukan jalan untuk bangkit kembali, dan mereka yang bersabar mengoleksinya di harga diskon lah yang kelak akan memanen hasilnya. (red)

(Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif berdasarkan analisis narasumber dalam video dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca).

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close