BERITA PILIHANNEWSNews Feed
Trending

Car Free Night Kediri Batal Setelah Dihajar Warganet, “Kendala Teknis” yang Tak Dijelaskan

KEDIRI, Satuwarta.id — Sabtu sore, 6 Juni 2026, akun Instagram resmi Pemerintah Kota Kediri mengunggah pengumuman yang tidak banyak orang duga: Car Free Night (CFN) perdana di Jalan Stasiun, yang dijadwalkan malam itu juga, resmi dibatalkan. Alasannya: “kendala teknis.” Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada pernyataan Wali Kota. Hanya satu kalimat tipis yang menutup program unggulan yang baru saja diumumkan dengan gegap gempita.

Publik tidak perlu menunggu klarifikasi resmi. Ratusan komentar yang membanjiri unggahan tersebut sudah menjawab lebih jelas dari pernyataan mana pun yang bisa dikeluarkan Pemkot Kediri: program itu memang sejak awal dianggap salah lokasi, salah perencanaan, dan salah waktu.

Menutup Urat Nadi Stasiun demi Sebuah Festival Malam

Jalan Stasiun Kediri bukan jalan sembarangan. Ia adalah jalur vital yang menghubungkan ribuan penumpang kereta api setiap harinya dengan Stasiun Kediri, salah satu simpul transportasi paling sibuk di Jawa Timur bagian barat. Menutup jalan ini selama lima jam untuk sebuah event hiburan bukan hanya soal lalu lintas. Ini soal memotong akses transportasi publik yang menyentuh kepentingan langsung puluhan ribu orang.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 7 Madiun bahkan sudah lebih dulu bergerak mengantisipasi dampak ini. Sehari sebelum CFN dijadwalkan, KAI mengimbau seluruh pelanggan yang akan berangkat maupun tiba di Stasiun Kediri untuk menyesuaikan rute perjalanan dan datang lebih awal, karena kawasan Jalan Stasiun akan ditutup untuk kendaraan bermotor mulai pukul 18.00 hingga 23.00 WIB. KAI bahkan mengingatkan risiko tertinggal kereta jika pelanggan tidak memperhitungkan waktu perjalanan dengan cermat.

Imbauan KAI itu yang beredar luas di media justru menjadi bensin bagi kemarahan warga. Jika operator kereta api nasional saja sudah harus mengeluarkan imbauan darurat, betapa besar gangguan yang akan ditimbulkan oleh program yang diklaim sebagai “ruang interaksi sosial baru” itu.

“Aneh kok akses menuju stasiun dibikin spot wisata dan acara-acara. Padahal itu jalannya orang pada kesusu,”ujar Warganet @byu_jouly, komentar di Instagram @pemkotkediri

“Kendala Teknis” dan Pertanyaan yang Tidak Dijawab

Pemkot Kediri mengumumkan pembatalan melalui unggahan di akun Instagram resminya @pemkotkediri dengan menyebut “kendala teknis” sebagai alasan. Namun pemerintah tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kendala teknis tersebut. Tidak ada keterangan dari Dinas Perhubungan, tidak ada pernyataan dari Wali Kota Vinanda Prameswati, dan tidak ada jadwal pengganti yang diumumkan.

Kekosongan informasi itu langsung diisi oleh warganet. Komentar demi komentar membaca situasi dengan cara yang lebih jujur dari siaran pers mana pun.

Beberapa suara warganet di kolom komentar @pemkotkediri:

  • “Muni ae atas desakan masyarakat. Dadak alasan teknis.” @bursalokerkediri
  • “Ini lho cah, bukti komenan kita didengar. Akhirnya di-cancel meski alasane mengada-ada. Asline ya karena komen dan kritik kalian. Semoga pemkot mempertimbangkan lagi kegiatan yang bisa merugikan dan bikin kontroversial.” @shantiiie
  • “Aneh kok akses menuju stasiun dibikin spot wisata dan acara-acara. Padahal itu jalannya orang pada kesusu.” @byu_jouly

Pola ini bukan hal baru dalam tata kelola pemerintahan daerah: sebuah program dibatalkan karena tekanan publik, namun alasan yang disampaikan tidak menyebutkan tekanan publik itu sebagai penyebab. “Kendala teknis” adalah bahasa birokrasi yang paling aman untuk menghindari kata “kami salah menilai situasi.”

Di Balik CFN: Alun-Alun yang Mangkrak dan Janji yang Belum Ditepati

Yang membuat kritik warganet semakin menggigit bukan hanya soal pemilihan lokasi Jalan Stasiun yang keliru. Ada konteks yang lebih dalam: warganet juga menagih janji Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati untuk merevitalisasi Alun-Alun Kediri, tempat yang dinilai jauh lebih tepat untuk program seperti Car Free Night tanpa mengganggu layanan transportasi publik.

Alun-alun itu diketahui mangkrak setelah pihak pelaksana pembangunan terlibat konflik hukum dengan Pemkot Kediri, dan Vinanda telah menjanjikan penyelesaiannya di awal pemerintahannya. Di mata warga, memilih Jalan Stasiun sebagai venue CFN sementara Alun-Alun yang semestinya menjadi pusat kota justru terbengkalai adalah sebuah ironi yang sulit diabaikan.

Vinanda Prameswati, yang baru berusia 27 tahun dan menjabat sejak Februari 2025, adalah wali kota termuda yang sedang menjabat di Indonesia saat ini. Ia dikenal energik dengan berbagai program inovatif. Namun kasus CFN ini menjadi ujian pertama yang cukup telak: sebuah program yang lahir dari niat baik menghadirkan ruang publik baru, terbentur pada absennya kajian dampak yang serius terhadap infrastruktur transportasi yang sudah ada.

Konsep yang Benar, Lokasi yang Keliru

Car Free Night sejatinya adalah pengembangan dari konsep Car Free Day yang dikenal luas. Ketika CFD digeser waktunya menjadi malam hari, fungsinya ikut bergeser: dari yang semula berfokus pada isu pemulihan lingkungan menjadi ruang hiburan rakyat dan penggerak ekonomi kreatif. Di banyak kota, format ini berhasil dengan baik, asalkan lokasi yang dipilih tidak berbenturan langsung dengan fungsi vital infrastruktur publik yang sudah ada.

Di Indonesia, konsep CFN pertama kali dikenalkan di Kota Solo oleh Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Wali Kota pada 2011, menutup Jalan Slamet Riyadi yang memang berfungsi sebagai jalan protokol pusat kota, bukan jalur akses menuju stasiun kereta aktif. Perbedaan konteks itulah yang Kediri tampaknya luput pertimbangkan.

Pertanyaan yang kini mengantung di udara: ke mana program Car Free Night Kediri akan dipindahkan? Apakah Alun-Alun yang dijanjikan akhirnya akan segera dibenahi? Dan apakah “kendala teknis” itu akan pernah dijelaskan dengan jujur kepada publik yang sudah cukup sabar menunggu?

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close