satuwarta.id – Komunitas pemerhati lingkungan Forum Kali Brantas, melakukan rapid test kualitas air secara mandiri kondisi air yang diduga tercemar di Desa Ploso Lor, Kecamatan Plosoklaten. Koordinator Forum Kali Brantas Chandra Iman Nasrori menjelaskan, kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Dalam kesempatan itu Forum Kali Brantas menggunakan metode rapid test dengan menguji tiga sampel air dari sumur milik warga yakni Munaim, Bintoro, dan Huda.
Hasil rapid test menunjukkan air sumur milik Munaim memiliki pH 6,60, Total Dissolved Solids (TDS) sebesar 482 mg/l, nitrat 2 dengan suhu 28,5°C. Kedua, air sumur Bintoro menunjukkan pH 6,53, TDS 514 mg/l, nitrat 10 dengan suhu 28,7°C. Ketiga, air sumur Huda tercatat dengan pH 6,57, TDS 421 mg/l, nitrat 2 dengan suhu 28,6°C.
Dari hasil itu, Forum Kali Brantas menyimpulkan bahwa air dari ketiga sumur tersebut tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mengacu Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2023 tentang kesehatan lingkungan untuk parameter TDS maksimal kurang 300 mg/liter.
“Jika digunakan untuk konsumsi atau aktivitas rumah tangga, air ini dapat mengganggu sistem pencernaan dan berdampak buruk bagi lingkungan karena bersifat korosif,” urai Chandra.
Chandra menambahkan, saat menguji tiga sampel, hanya satu sampel yang dapat mendeteksi kadar fosfat yakni kadar fosfat dari air sumur Munaim 1,0, sisanya tidak terdeteksi oleh alat rapid test. Menurut Chandra, hal itu disebabkan sampel air sumur sudah memiliki warna terlalu pekat.
Pun begitu, Chandra mengungkapkan, dugaan pencemaran ini berasal dari aktivitas limbah industri, namun bisa juga dari campuran detergen.
“Itu pencemarannya terlalu pekat,” ungkapnya.
Sebagai informasi, rapid test yang dilakukan Forum Kali Brantas ini menggunakan dua jenis yakni alat digital Water Quality dengan tingkat keakuratan di atas 90% dan alat manual dengan keakuratan di bawah 90%.
Sebagaimana diketahui, dugaan pencemaran ini mencuat setelah warga mendapati air sumur mereka yang sebelumnya jernih, tiba-tiba berubah menjadi keruh dan mengeluarkan bau menyengat. Meskipun warga sempat mencoba menguras sumur, kondisi air tetap tidak membaik.
Warga menduga pencemaran ini berasal dari limbah pabrik gula yang dibuang ke lahan kosong yang berjarak hanya sekitar 12 meter dari permukiman. Setelah kawasan tersebut diguyur hujan deras sejak awal 2025, limbah diduga meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air bawah tanah milik warga.ind



