Lifestyle

Sutradara Ninndi Raras Berbagi Ilmu di Kota Kediri, Dorong Komunitas Berkarya Lewat Film Pendek

satuwarta.id – Sutradara perempuan Ninndi Raras membagikan pengalamannya dalam dunia perfilman kepada komunitas film di Kota Kediri dalam sebuah forum diskusi bertajuk “Berlayar Sinema – Silaturasa dan Menenun Komunitas Film Indonesia.”

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Museum Sineas Garin Nugroho, Omah Jayeng, dan komunitas Kali Brantas Sinema (KALIBRASI). Acara yang berlangsung pada Minggu (27/7/2025) tersebut diikuti lebih dari 100 peserta dari berbagai daerah, mulai dari Kota dan Kabupaten Kediri, Tulungagung, Blitar, hingga Jombang. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pelajar, mahasiswa, komunitas film, hingga sanggar teater.

Dalam sesi diskusi, para peserta aktif melontarkan pertanyaan kepada Ninndi Raras, mulai dari hal-hal teknis seperti peran figuran, riset dalam produksi film, membangun gaya penyutradaraan, hingga pendekatan kepada calon pemeran.

“Peserta cukup aktif, mereka tidak malu. Banyak hal yang membuat penasaran, mereka ungkapkan. Kalau misalnya ada lebih banyak ruang-ruang seperti ini, kemudian ada literasi atau berbagi dari seniman atau filmmaker, mungkin bisa jadi perspektif lain dalam berkarya nantinya,” ujar Ninndi Raras.

Acara ini juga menayangkan empat film pendek, yakni “Mbok dan Bung” serta “Kitorang Basudara” karya Ninndi Raras, “Laila – The Voice of Voiceless” karya Komunitas Kalibrasi, serta “KRISIS” dalam karya film Garin Nugroho yang disutradarai oleh Tony Trimarsanto.

Ninndi menekankan pentingnya film pendek sebagai titik awal karier seorang sineas.

“Short film bisa jadi langkah awal teman-teman untuk berkarya. Dengan melihat lebih banyak short film, mungkin jadi bisa bikin short film juga untuk awal-awal karir, kemudian nanti mungkin akan bikin film dengan berbagai macam medium lain yang lebih advance misalnya film panjang atau film series,” jelasnya.

Menurut perwakilan Omah Jayeng, Arief Akhmad Yani, tingginya antusiasme peserta di luar dugaan. Ia menilai minat peserta terhadap film alternatif cukup tinggi.

“Biasanya itu lima pertanyaan sudah menjadi sebuah diskusi panjang. Ini sampai tujuh, hampir delapan tadi. Berarti penting bagi mereka untuk bertanya tentang film yang kami putar. Mereka bisa jadi penasaran ada hal seperti itu,” ungkap Arief.

Sementara itu, Founder KALIBRASI, Bayu Pradityo, berharap kegiatan ini menjadi pemantik semangat komunitas film di wilayah Kediri Raya.

“Harapannya ini menjadi langkah awal di level komunitas dan bisa berkelanjutan. Selain itu menjadi semangat komunitas-komunitas lain di sekitar Kediri Raya,” pungkasnya.tam

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close