Strategi Bertahan di Tengah “Market Berdarah” ala Hengky Adinata: Hindari Margin dan Ikuti Jejak Smart Money

JAKARTA, Satuwarta.id — Pasar modal Indonesia belakangan ini tengah menghadapi tekanan berat. Gejolak geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah dengan sentimen penyesuaian bobot indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International), membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur. Dalam situasi “market berdarah” seperti ini, banyak investor dan trader ritel yang panik hingga mengalami kerugian besar (drawdown).
Merespons kondisi pasar yang tidak menentu, praktisi pasar modal Hengky Adinata membagikan pandangan serta strateginya untuk bertahan (survive). Dalam perbincangannya di kanal YouTube Leon Hartono yang tayang pada 28 Maret 2026, Hengky menekankan pentingnya menjaga psikologis dan tidak memaksakan diri melawan arus pasar.
“Kalau ditanya bagaimana kondisi sekarang, I think (ini) good opportunity untuk trading, tapi bukan trading harian. Kalau lagi bear market (tren turun), jangan memaksakan diri,” ujar Hengky.
Jaga Mental, Hindari Penggunaan Margin
Salah satu pesan paling krusial yang ditekankan Hengky bagi para pelaku pasar saat ini adalah larangan keras menggunakan fasilitas margin (uang pinjaman dari sekuritas). Menurutnya, menggunakan margin di saat pasar sedang anjlok adalah jalan pintas menuju kehancuran finansial dan mental.
“Yang penting jangan margin. Itu first thing first. Saya melihat banyak orang keoknya gede banget di level ratusan miliar karena pakai margin dalam konteks crash seperti ini,” tegasnya.
Ia menjelaskan, ketika modal terkuras habis akibat margin call, hal yang paling fatal adalah hancurnya mental bertransaksi. Saat mental sudah jatuh, seorang trader akan kehilangan objektivitas dan keberanian untuk masuk kembali ketika pasar kelak sudah membaik.
Oleh karena itu, Hengky menyarankan jika kondisi pasar sedang sangat fluktuatif dan tidak masuk akal, lebih baik investor menepi sejenak. “Lebih baik jalan-jalan atau liburan. Daripada maksa trading lalu sumbang donasi (rugi) ke market, mending kita jalan-jalan santai,” guraunya.
Pantau Manuver “Smart Money” dan Buyback Emiten
Meski menyarankan wait and see, Hengky menyebut bahwa pasar yang sedang jatuh justru menyimpan peluang besar (opportunity) bagi mereka yang sabar dan jeli. Strategi andalannya saat ini adalah mengikuti rekam jejak transaksi smart money atau akumulasi dari pihak emiten itu sendiri.
Di tengah aksi jual paksa (panic selling) atau keluarnya dana asing (capital outflow), ada sejumlah emiten yang justru diam-diam melakukan aksi beli kembali sahamnya (buyback). Namun, Hengky mengingatkan agar investor berhati-hati dalam membedakan buyback asli dan buyback “palsu” yang sekadar mencari sentimen.
“Buyback yang benar itu dia serap dari market. Kita cross check analisa transaksinya, bagaimana cara dia antre beli (nge-bid), disiram (dijual) sama siapa, apakah asing atau ritel. Kalau asingnya buang barang lalu ditampung pelan-pelan oleh emiten, itu peluang bagus,” paparnya.
Strategi yang diterapkan Hengky adalah disiplin antre di harga bawah mengikuti jejak akumulasi bandar atau emiten. “All we need to do adalah nge-bid saja. Enggak perlu Hajar Kanan (HK). Hari ini enggak dapat enggak apa-apa, besok lagi. Kita ngekor saja pelan-pelan di belakang,” kata Hengky.
Meski demikian, kedisiplinan tingkat tinggi tetap dibutuhkan. Hengky memiliki aturan ketat: jika smart money atau emiten tiba-tiba berhenti menampung barang di harga bawah dan ikut berbalik arah membuang saham, ia tidak akan ragu untuk segera melakukan cut loss (jual rugi) guna mengamankan aset.
Menanti Titik Terang
Terkait arah pasar ke depan, Hengky memperkirakan ketidakpastian masih akan berlangsung, setidaknya hingga turbulensi geopolitik dan perombakan portofolio imbas MSCI mereda.
Bagi investor dengan modal kecil hingga menengah, ia menyarankan untuk tidak terlalu agresif menempatkan dana. “Tunggu saja sampai market oke baru gedor lagi. Playing survival mode dan defensif dulu,” pungkasnya memberikan wejangan. Tonton video selengkapnya di channel The Overpost di bawah ini. (*)



