Seminar Parenting Islami, Ajak Orang Tua Lebih Bijak dan Waspada Hadapi Dinamika Digital

satuwarta.id – Menjadi orang tua di era digital ini, dihadapkan pada banyak tantangan dan dinamika. Padahal, dituturkan anggota DPR RI KH An’im Falachuddin Mahrus keluarga memiliki peran penting dalam membentuk generasi cerdas dan berakhlak mulia.
Hal tersebut diungkapkan dalam Seminar Parenting Islami bertajuk “Keluarga Tangguh, Anak Cerdas, dan Sekolah/Madrasah Unggul” yang berlangsung di Masjid Agung Kota Kediri. Kegiatan itu sendiri merupakan bentuk sinergi antara Komisi VIII DPR RI dengan Kementerian Agama.
Gus An’im, sapaan akrabnya menegaskan, kegiatan ini menjadi upaya untuk mendorong masyarakat agar semakin sadar akan pentingnya pendidikan anak sejak dini — baik di lingkungan keluarga maupun di lembaga pendidikan berkualitas.
“Untuk mendidik anak dengan baik, di dalam lingkungan keluarga dengan baik, dan juga di sekolah,” ungkapnya, Rabu, (08/10/2025).
Selain itu, KH An’im juga mengingatkan tantangan besar di era kemajuan teknologi dan media sosial. Orang tua, menurutnya, harus lebih bijak dan waspada dalam mengawasi aktivitas anak-anak mereka di dunia digital.
“Maka orang tua diharapkan untuk lebih ketat mengawasi kegiatan anaknya untuk bertindak yang cerdas terhadap perubahan zaman, agar jangan sampai teknologi yang maju ini memberi dampak negatif kepada anak-anak kita, tapi justru akan membantu kelancaran di dalam mencari ilmu dan pekerjaan-pekerjaan yang lain,” tambahnya.
Sementara itu, narasumber lainnya, dosen UIN Syekh Wasil Kediri Dr. M. Ilman Nafian, M.Pd, membahas aspek praktis dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Ia menekankan bahwa parenting Islami tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua di rumah, tetapi juga melibatkan guru dan pendidik di sekolah maupun pesantren.
“Tidak hanya dalam lingkup orang tua saja, tetapi bagaimana guru memberikan pendidikan kepada muridnya, Ustadz memberikan bimbingan kepada santrinya dalam konteks pesantren. Supaya dalam memberikan porsi pendidikan ini bisa terlaksana dengan benar, sesuai dengan teori-teori Islam, Al-Quran, dan teori-teori psikologi,” jelasnya.
Dr. Ilman juga menyoroti pentingnya komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua. Menurutnya, forum dialog antara wali murid dan guru selama ini masih sangat terbatas — umumnya hanya dilakukan saat rapat penerimaan rapor atau pertemuan tahunan.
“Padahal permasalahan anak baik di sekolah. Di pesantren itu sangat kompleks, sehingga harus ada pertemuan rutin, parenting, baik dikemas dengan pengajian plus parenting atau apalah yang penting, durasi yang minimal satu tahun itu 10 kali, 12 kali itu cukup,” pungkasnya.



