Sajikan 25.323 Tusuk Sate Lele, Kabupaten Kediri Raih Penghargaan MURI

satuwarta.id – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengapresiasi pemberian penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas penyajian sate lele terbanyak 25.323 tusuk.
Piagam penghargaan dari MURI ini dianugerahkan untuk Pemerintah Kabupaten Kediri, Asosiasi Pengusaha Catfish Kediri, dan Republik Lele Pare.
Selain penyerahan penghargaan MURI, kegiatan yang diadakan di Lapangan Tulungrejo Pare pada Rabu (25/10/2023) itu juga dilakukan penyerahan Sertifikat Pengolahan (SKP) dan sertifikat Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) untuk pengusaha kuliner berbahan baku ikan lele.
Mas Dhito, sapaan akrabnya menyebut budidaya ikan lele memiliki potensi yang luar biasa. Ikan berkumis ini menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya di Kabupaten Kediri.
“Inovasi olahan lele ini juga terus dikembangkan, seperti saat ini dibuat sate lele,” katanya.
Dalam acara itu, Mas Dhito juga berdialog dengan pelaku budidaya lele. Dari hasil dialog yang dilakukan diakui ada permintaan untuk penyediaan ikan lele induk atau biasa disebut dengan F1.
Untuk menindaklanjuti permintaan itu, pihaknya dalam waktu dekat berencana untuk berdiskusi lebih jauh dengan para pelaku budidaya lele.
“Kami akan berembuk dengan para peternak lele, keinginan mereka seperti apa. Jangan sampai kami telah menyediakan fasilitas, tapi tidak menambah nilai produksi atau mengefisiensi cost dari ikan lele tersebut,” ungkapnya.
Berdasarkan data yang ada, nilai ekonomis ikan lele pertahun mencapai Rp300 miliar dengan jumlah produksi sekitar 16.000 ton. Jumlah tersebut tak lepas dari adanya genetik ikan yang bagus.
Oleh karena itu, Mas Dhito berharap seluruh pembudidaya ikan lele harus tetap aktif dalam produksi, mulai dari benih hingga ukuran induk.
Disisi lain, adanya pemecahan rekor MURI penyajian sate lele terbanyak itu sebagai bagian untuk mensukseskan gerakan gemar makan ikan. Terlebih ikan lele saat ini didorong menjadi alternatif pemenuhan gizi bagi penanganan stunting di Kabupaten Kediri.
Berdasarkan survey di Kementerian Kesehatan, telah dilakukan uji stunting menggunakan random sampling di 80 titik dengan hasil prosentase 13%. Sementara, berdasarkan uji bulan timbang di Kabupaten Kediri sebanyak 9.3%.
Pun hasilnya berbeda, paling penting pihaknya terus berupaya untuk menekan terjadinya stunting di Kediri.
“Memang ada sedikit perbedaan, kalau saya prinsipnya yang penting hasil riil di lapangan,” jelas, Bupati berusia 31 tahun itu.
Pemerintah Kabupaten Kediri, tegas Mas Dhito menargetkan zero stunting. Adapun pada tahun 2024 ditargetkan terjadi penurunan kasus stunting menjadi satu digit.ind



