
satuwarta.id – Kereta kuno yang merupakan saksi sejarah perjuangan Bupati Kediri di era penjajahan Belanda tersimpan dalam kondisi memprihatinkan di jalan Glinding, Desa Kandat Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri.
Berjuluk Mbah Gleyor, kereta milik Bupati Kediri Djojohadiningrat ini memiliki dua fungsi. Mbah Gleyor yang kini berusia hampir 200 tahun bisa digunakan di darat dengan menggunakan roda, dan juga bisa digunakan di air (amphibi) karena bentuknya yang mirip perahu.
Mbah Gleyor saat ini tersimpan di sebuah joglo dengan pagar besi, dibangun oleh mantan Bupati Blitar Imam Muhadi – salah satu keturunan Djojohadiningrat. Mbah Gleyor dirawat bersama-sama oleh warga setempat.
“ Kereta kuno ini dirawat penduduk desa setempat belum mendapar campur tangan dari pemerintah. Dibiarkan dalam bangunan joglo terbuka dengan pagar besi yang dibangun oleh keturunannya,” tutur Imam Mubarok, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Minggu, (27/02/2022).
Kereta dari bahan kayu jati dengan panjang kurang lebih 7 meter dan lebar 2 meter itu masih terlihat kokoh dan kuat.
Kereta antik itu, menurut Hj. Musiswatin (72), salah satu tokoh desa ditinggalkan Bupati Djojohadiningrat setelah sang Bupati ditangkap Belanda dan diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara
Hukuman itu diberikan karena Bupati difitnah telah membunuh salah satu pegawai pabrik gula Belanda di Kediri. Bupati Djojohadiningrat yang tutup usia di Manado kemudian mendapat julukan “Kanjeng Manado”.
Sepeninggal sang Bupati ke Manado, kereta itu sempat dirawat Mbah Nala, yang sebelumnya bertugas menjadi penarik kereta tersebut. Setelah Mbah Nala wafat dan dimakamkan di Desa Kandat, tugas merawat kereta beralih ke Mbah Matal
Mbah Nala, yang meninggal dan dimakamkan di Desa Kandat, kemudian digantikan Mbah Matal. Saat dirawat Mbah Matal inilah, kereta dipindah dari tempatnya semula ke tempatnya sekarang. Pemindahan dilakukan pada sekitar masa setelah kemerdekaan.
“Kereta itu tak bisa jalan dan ditarik dengan bantuan masyarakat setempat saat dipindahkan. Ia hanya mau ditarik oleh dua kerbau jantan dan dan didorong oleh Mbah Matal dan Istrinya. Keanehan itu yang pertama, keanehan kedua bekas tanah yang dilewati kereta itu tak bisa tumbuh rumput,” kata Muniswatin lagi.bby



