
satuwarta.id – Ribuan santri dan guru serta pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah serta warga mengikuti ibadah salat Idul Fitri 1446 Hijriah pada Senin (31/3) di halaman Ponpes Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur.
Bertindak sebagai imam salat, KH Sabela Rosyada dan sambutan dari Ketua Ponpes Wali Barokah KH Sunarto. Dalam sambutannya, KH Sunarto menyampaikan rasa syukur karena Idul Fitri 1446 H dirayakan pasca penetapan dan pelantikan Kepala Daerah namun dalam suasana aman, damai, dan kondusif.
“Terlebih setelah dilantiknya kepala daerah terpilih, baik Gubernur dan Wakil Gubernur maupun Bupati, Wali Kota dan Wakilnya secara serentak oleh Presiden RI Prabowo Subianto beberapa waktu lalu,” katanya.
Ia meyakini dalam perhelatan Pemilukada serentak tanggal 27 November 2024 yang lalu, satu dengan yang lain ada yang berbeda pilihan. “Tetapi perbedaan tersebut hendaknya jangan dijadikan alasan untuk memutus hubungan silaturahim diantara kita, alasan untuk tidak hidup berdampingan, guyub rukun, kompak, dan kerja sama yang baik,” tegas KH Sunarto.
Kini saatnya kita sebagai warga negara yang baik sebisa mungkin mendukung dan memberikan kontribusi yang nyata agar visi, misi dan program kerja Kepala Daerah dimana kita berada bisa terealisasikan dengan sebaik-baiknya.
“Khususnya kita yang berada di wilayah Kota Kediri hendaknya memahami visi misi Kepala Daerah kita, yang terformulasikan ke dalam akronim MAPAN (Maju, Agamis, Produktif, Aman, dan Ngangeni) yang dijabarkan ke dalam sejumlah program dan kegiatan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan,” jelas KH Sunarto.
Menurutnya, Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah umat Islam berjuang menahan lapar, dahaga, dan melawan hawa nafsu. Bahkan berupaya dengan sungguh-sungguh menghindari dari ucapan dan perbuatan dusta, “Kesemuanya itu kita lakukan semata-mata untuk meningkatkan kualitas puasa kita agar mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT,” tuturnya.
Para ulama LDII, menurutnya telah menetapkan standar dalam meraih pahala berpuasa, dengan berupaya meraih “5 Sukses Ramadhan”, yang meliputi sukses puasa, sukses shalat tarawih, sukses tadarus Al Quran, sukses Lailatul Qadr, dan sukses zakat fitrah, serta meningkatkan amalan-amalan ibadah lainnya.
“Dari keseluruhan rangkaian ibadah Ramadan tersebut, kita bisa mengambil hikmah yang cukup berharga, antara lain bahwa untuk mencapai tujuan yang mulia membutuhkan kesungguhan, integritas moral yang tinggi, perlu kesabaran, kedisiplinan, saling menghargai dan empati, jauh dari sifat iri, dengki, sombong, riya’, ujub, dan penyakit hati lainnya,” lanjut KH Sunarto.
“Alhamdulillah, pada saat ini selesailah sudah perjuangan kita dalam meraih kemenangan besar tersebut untuk kembali ke fitrah manusia. Maka sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah tersebut, pada saat ini kita semua umat Islam di seluruh penjuru dunia menggemakan takbir, tahlil, dan tahmid kepada Allah SWT,” imbuhnya.
KH Sunarto mengajak umat Islam dan bangsa Indonesia untuk bersyukur dan bangga menjadi warga negara Indonesia. Menurutnya, bangsa Indonesia memiliki dasar falsafah Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa dan UUD 1945, yang menjamin kemerdekaan warga masyarakatnya, “Termasuk untuk memeluk agama dan kepercayaannya serta menjalankannya berdasarkan keyakinan masing-masing,” pungkasnya.
Untuk itu ia mengajak, warga LDII dan umat Islam lainnya mengembangkan sikap toleransi, saling menghargai, dan menghormati keyakinan rakyat Indonesia yang sangat beragam. Untuk menomorsatukan kebangsaan serta persatuan dan kesatuan.tam



