HUKUM & KRIMINAL

Berbuntut Saling Lapor, Polemik Pengelolaan Wakaf Diharapkan Tuntas Dengan Damai

satuwarta.id – Polemik kenadziran (pengelolaan wakaf) Masjid Al Muttaqun Kelurahan Manisrenggo Kota Kediri, pekan ini berbuntut pada saling lapor antara dua pihak yang terlibat polemik. Saling lapor tersebut berawal dugaan kekerasan yang dialami dua kubu yakni pihak ahli waris wakaf dan warga sekitar.

Dugaan kekerasan pertama terjadi pada Selasa (12/12/2023) petang menjelang waktu sholat Maghrib. Salah satu pengurus masjid dari pihak ahli waris Luqman Hakim, mengungkapkan dirinya menjadi korban kekerasan saat hendak memimpin sholat Maghrib sebagai imam.

Namun kemudian ia didorong keluar masjid, dan sempat ditendang. “Saya berdiri di Imaman, didorong keluar. Ada dua orang yang mendorong. Lalu terjatuh dan ditendangi. Terasa sakit di dada dan punggung,” ungkapnya, Rabu (13/12/2023) siang.

Penyebab peristiwa itu sendiri menurut Luqman dikarenakan sejumlah pria tadi tidak mau dirinya menjadi imam sholat mahgrib. Peristiwa pengeroyokan itu sendiri sudah dilaporkan ke pihak Polres Kediri Kota.

Dugaan kekerasan kedua terjadi pada Rabu petang menjelang waktu sholat Maghrib. Kali ini yang menjadi korban adalah salah satu warga setempat bernama Mashuri.

Mashuri menuturkan, usai dirinya menunaikan sholat sunnah, ia melihat keributan antara salah satu warga sekitar dengan sejumlah pria yang diduga adalah bagian dari pihak ahli waris. Keributan ini diduga karena jadwal menjadi Imam yang seharusnya jadi jadwal pihak warga, justru diisi oleh pihak ahli waris wakaf.

Mashuri kemudian berusaha melerai dan membawa warga tadi keluar. Namun saat di luar, sejumlah pria lain kemudian menghadang dan memiting dirinya.

Akibatnya Mashuri tidak sadarkan diri. Mashuri mengaku sama sekali tidak mengenal para pria tadi. “Bukan orang sini (wilayah setempat) ada sekitar 10 orang,” ujarnya, Jumat (15/12/2023).

Mashuri bersama warga sekitar kemudian melaporkan peristiwa kekerasan yang terjadi di serambi Masjid Al-Muttaqun itu kepada pihak kepolisian, dalam hal ini Polres Kediri Kota. Selain Mashuri, ada satu warga lain yang turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut namun belum melakukan laporan polisi.

Peristiwa ini sendiri sempat memicu ketegangan warga di sekitar masjid pada Rabu malam. Ratusan warga memadati depan rumah ahli waris wakaf, yang diduga menyembunyikan pelaku kekerasan terhadap Mashuri dan warga lain.

Kerumunan warga bertahan di sampai sekitar pukul 2 dini hari sebelum akhirnya bubar usai adanya komitmen bersama antara dua belah pihak terkait kenadziran.

Polemik Diharapkan Tuntas Dengan Damai dan Kondusif

Polemik pengelolaan wakaf sendiri, tengah menanti keputusan BWI (Badan Wakaf Indonesia). Tanfidz Ranting NU Kelurahan Manisrenggo Saifuddin menuturkan masyarakat sekitar ingin sebuah perdamaian dari konflik yang berkepanjangan itu.

Menurutnya, selama ini selalu diupayakan perdamaian tapi tetap ada kebuntuan. Dimana menurutnya, pihak ahli waris terlihat berusaha untuk menguasai masjid. Padahal, menurut mereka, Masjid Al-Muttaqun tidak hanya wakaf dari ahli waris saja, melainkan dari masyarakat.

Saifuddin juga membantah ada warga yang melakukan aksi kekerasan pada Luqman Hakim.

“Keinginan masyarakat bersama-sama mengelola Masjid Al-Muttaqun. Karena masjid ini milik orang banyak, yang wakaf juga lebih dari satu dan yang membangun 100 persen masyarakat,” imbuh pria yang tercatat sebagai Sekretaris Takmir Masjid Al-Attaqun itu.

Sementara itu Kepala Kelurahan Manisrenggo Bambang Supriyanto, berharap polemik itu bisa segera selesai dan seluruh masyarakat tetap menjaga keamanan dan ketertiban.

“Segera diselesaikan. Saya bersama tiga pilar pada intinya ingin menjaga situasi warga masyarakat Manisrenggo selalu aman dan kondusif. Serta tetap menjaga persatuan dan kesatuan warga,” katanya, Jumat (15/12/2023).tam/ind

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close