BISNIS

Pemkab Kediri Dorong ASN Mampu Manfaatkan Lahan Sempit Jadikan Sistem Pertanian Hidroponik

satuwarta.id – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) agar mampu memanfaatkan lahan sempit menjadi tambahan penghasilan.

Hal itu sesuai program webinar ASN Cerdas bertemakan Urban Farming Memanfaatkan Lahan Sempit Jadi Penghasilan yang digelar melalui aplikasi Zoom dan Youtube, Jumat (16/2/2024).

Plt Kepala BKD Kabupaten Kediri Banatil Mufidah menyampaikan, program ASN cerdas tersebut sebagai salah satu pengembangan kompetensi bidang pertanian dengan mengambil memanfaatkan lahan sempit di tempat tinggal masing-masing.

Pemanfaatan lahan sempit itu ditandai dengan menggunakan sistem pertanian ramah lingkungan hidroponik seperti pada tanaman sayuran Sawi, Pakcoi, Selada, hingga tanaman buah Melon.

“Sehingga bisa mmeningkatkan gizi keluarga, mencegah stunting, dan memungkinkan menambah penghasilan. Untuk itu diharapkan anak muda di Kabupaten Kediri bisa tertarik melakukan hal ini,” kata Banatil Mufidah.

Terpisah, Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan (P4S) Hikmah Farm Penyuluh Pertanian Assesor Nasional Kementerian Pertanian Sunandar menambahkan, sistem pertanian hidroponik kini sangat digemari bagi petani mileni.

Sebagaimana sistem penanaman ramah terhadap lingkungan itu dinilai menyesuaikan modernisasi. Selain hasilnya yang presisi dan terukur, hal menarik lainnya yakni petani milenial lebih condong mengoptimalkan teknologi manajemen. Sehingga tingkat keberhasilan dalam pertanian dapat dikendalikan.

“Untuk teknologi Internet of Things (IoT) berbasis android yang mampu menyimpan data-data budidaya pertanian untuk kita jadikan patokan petani. Jadi seluruh data itu terekam untuk mengetahui nutrisi apakah sudah standar sesuai apa yang kita inginkan,” tambah Sunandar.

Sebagai organisasi yang telah memberikan pelatihan terhadap petani di Kabupaten Kediri, Sunandar menangkap sejumlah tantangan para petani saat terjun ke bidang pertanian. Yang pertama terkait modal dan daya konsumsi pupuk.

“Modal di awal memang relatif tinggi. Namun setelah itu untuk kegiatan berikutnya sangat rendah karena nilainya yang dia dapat sangat tinggi,” terangnya.

Kemudian tantangan berikutnya pada pengendalian hama penyakit. Menurut Sunandar, hama dapat dicegah sejak dini melalui pemilihan benih dan sterilisasi green house.

Diakui Sunandar, pencegahan tersebut tak lepas dari penggunaan sistem pertanian hidroponik yang dapat mengurangi risiko-risiko berbahaya. Terutama pemilihan benih dan bibit unggul.

“Secara kemanfaataan adalah dengan lahan yang sempit tapi bisa menghasilkan produktivitas yang tinggi, budidaya juga terukur, presisi terkait produksinya berapa, rasa manisnya bagaimana itu bisa diatur di tanaman hidroponik,” jelasnya.

Kendati petani mengungkapkan kesulitan, sebagai narasumber webinar, Sunandar memberikan motivasi supaya tetap tertarik menggunakan sistem hidroponik. Mengingat kandungan organik tanah saat ini telah mengalami penurunan 0-1%.

Maka perlu membuat terobosan-terobosan pertanian yang ramah lingkungan. Selain karena faktor kesehatan, sistem hidroponik terbebas dari residu kimia berbahaya yang nantinya mengurangi kasus stunting.

“Sehingga mari kita berpikir jernih untuk melaksanakan kegiatan budidaya tanaman yang sehat. Insyaallah banyak masyarakat milenial yang paham pertanian berbasis ramah lingkungan,” pungkas Sunandar.ind

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close