News Feed

Derita Keluarga Zaenal, Bertahan Hidup di Rumah Hampir Roboh

satuwarta.id – Kondisi Keluarga Zaenal, warga Dusun Manyaran, RT 002/002, Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan membuat siapapun yang melihatnya prihatin.

Tempat tinggalnya jauh dari kata layak. Bangunan rumah berukuran 3×6 meter itu dindingnya sudah retak-retak, bahkan harus dicongkok bambu dari luar supaya tak roboh.

Rumah kecil itu dibagi menjadi tiga ruangan. Bagian depan dimanfaatkan untuk ruang tamu, bagian tengah satu tempat tidur dan belakangnya untuk dapur. Potongan foto-foto kecil tertempel dalam papan triplek yang menjadi penyekat ruang tamu.

Tak terlihat barang berharga di rumah itu. Almari pun seperti tak ada, sehingga pakaian hanya disampirkan di papan penyekat ruang. Dengan keterbatasan yang ada, keluarga Zaenal pun tetap bersyukur karena mereka memiliki rumah tempat berlindung.

Untuk dapat menerangi rumah kecilnya, Zaenal harus menyambung kabel dari rumah tetangga. Di rumahnya itu, Zaenal tinggal bersama istri dan empat orang anaknya. Untuk menghidupi keluarganya, Zaenal mengandalkan dari hasilnya menarik becak.

“Kulo namung ten griyo mawon, momong (saya hanya di rumah saja, mengasuh anak),” kata Siti, istri Zaenal.

Beruntung, dua anak gadisnya yang sudah besar setamat SMP sudah mulai bekerja di rumah makan. Kini tinggal anak nomor tiga yang masih sekolah dan duduk di kelas 6 madrasah. Sedang, si bungsu usianya baru empat tahun.

Hasil Zaenal menarik becak digunakan mencukupi kebutuhan hidup harian. Dalam kondisinya yang terbatas, untuk membangun rumah yang lebih layak huni masih sulit dilakukan. Keluarga ini pun tak mengeluh, mereka sadar diri akan kemampuannya.

“Nggih ngeten niki kahanane, pingine nggih omahe di dandosi (Ya seperti ini keadaannya, pingginnya ya rumahnya diperbaiki),” ucapnya.

Tak hanya bangunan rumah yang memprihatinkan, keluarga Zaenal diketahui tak memiliki kamar mandi dan toilet. Selama ini, untuk mandi dan buang air mereka menumpang di Mushola tak jauh dari tempat tinggalnya.

Di samping rumah Zaenal, ada satu rumah lagi milik saudaranya. Meski belum diplester, rumah saudaranya itu terlihat lebih kokoh. Kedua rumah itu tidak berada di tepi jalan sebagaimana rumah tetangganya, melainkan sedikit masuk ke dalam di bawah pohon bambu.

“Samping niku gene rayine, sertifikat tasih dados setunggal gene mak’e, dibeto mak’e ( samping itu rumah adik, sertifikat masih jadi satu milik ibu, dibawa ibu),” terang Siti.

Dalam keterbatasan itu, rumah tangga Zaenal bukan berarti tak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dari poster yang tertempel di dinding depan, keluarga itu menjadi penerima manfaat bantuan keluarga harapan dari pemerintah.bby

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close