satuwarta.id – Tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kediri pada awal tahun 2025 tercatat lebih landai dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Ahmad Khotib, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Bambang Triyono Putro.
Bambang mengatakan, penurunan signifikan terlihat mulai bulan Februari hingga Mei 2025. Rinciannya, pada tahun 2025 periode Januari tercatat ada 43 kasus, lalu Februari turun menjadi 37 kasus, Maret 32 kasus, April 24 kasus, dan Mei 25 kasus.
“Jika dibandingkan tahun lalu, ada penurunan cukup jelas. Pada Januari 2024 ada 42 kasus, Februari 64, Maret 60, April 58, dan Mei 52 kasus,” jelasnya, Selasa (3/6/2025).
Menurut Bambang, keberhasilan pengendalian tren kasus DBD ini tak lepas dari keterlibatan berbagai pihak. Mulai dari peran stakeholder lintas sektor, keberlanjutan program kader jumantik, hingga gerakan satu rumah satu jumantik yang terus digalakkan di masyarakat.
“Selama semua elemen bergerak dan pengendalian berjalan dengan baik, kasus DBD bisa ditekan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bambang menambahkan, bahwa puncak kasus DBD terjadi pada awal dan akhir tahun, seiring dengan meningkatnya curah hujan serta keberadaan tempat penampungan air yang tak terawat.
Termasuk pula kondisi saat ini yang masih masuk dalam cuaca kemarau basah, hingga menyebabkan genangan air tetap terjadi. Genangan inilah yang menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti, vektor penyebab DBD.
“Tempat penampungan air jadi salah satu titik utama berkembang biaknya nyamuk,” terangnya.
Meski menunjukkan tren kasus menurun, Dinkes Kabupaten Kediri tetap mengimbau upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan strategi 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air, serta menanam tanaman penolak nyamuk. Sementara fogging hanya dilakukan jika ada kasus positif DBD di suatu wilayah.ind



