Garasi UMKM Kediri Jadi Ruang Kreatif Warga Hingga Kenalkan Budaya Kabupaten Kediri ke Dunia Internasional

Kediri – Gerai Inkubasi (Garasi) UMKM Kabupaten Kediri menjadi ruang kreatif bagi warga Kabupaten Kediri untuk mengekspresikan karya di berbagai bidang, mulai dari usaha mikro, sanggar tari, hingga komunitas seni musik, dan komunitas-komunitas lainnya.
Seperti Garasi UMKM Pare yang berfungsi sebagai pusat pengembangan produk UMKM lokal, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya para seniman dan komunitas kreatif. Salah satunya Sanggar Tari Flying Star Dance yang baru-baru ini dikunjungi mahasiswi asal California, Amerika Serikat Sadie Nolan dalam program Cultural Visit Basic English Course (BEC).
Di Garasi UMKM Pare, Sadie diajak melihat langsung seni tari dari sanggar Flying Star Dance. Menariknya, Sadie Nolan tidak hanya menonton pertunjukan, tetapi juga berinteraksi dengan murid-murid Sanggar Tari Flying Star Dance. Ia sempat memberikan pertanyaan sederhana dalam bahasa Inggris, seperti menanyakan apa bahasa Inggrisnya nanas ke murid-murid sanggar, hingga mencoba menari Tari Pitik Walik bersama mereka.
Sadie mengaku sangat menikmati kunjungannya di Kabupaten Kediri. “I had a great time! I love it, it’s very beautiful,” ujar Sadie dengan wajah gembira.
Gelar Gian Crismeril, pemilik sanggar tari Flying Star Dance juga mengungkapkan antusiasmenya. “Kegiatan hari ini sangat seru sekali. Baik antusias anak-anak sanggar ataupun dari Mrs. Sadie Nolan yang juga sangat tertarik dengan tarian yg dibawakan adik-adik sanggar”.

Garasi UMKM merupakan program inisiatif Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana atau Mas Dhito, yang bertujuan menjadikan Garasi UMKM sebagai wadah kolaborasi antar pelaku UMKM, seniman, dan komunitas kreatif. Melalui tempat ini, budaya dan potensi lokal Kabupaten Kediri diharapkan semakin dikenal.
Garasi UMKM juga menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Kediri dalam memperkuat ekonomi kreatif dan membuka peluang pemasaran produk lokal ke pasar yang lebih luas. Selain sebagai ruang ekspresi seni, Garasi UMKM secara rutin menggelar pelatihan, bazar, hingga kegiatan yang melibatkan pelaku UMKM dan komunitas, sehingga dapat meningkatkan kualitas produk dan daya saing UMKM Kabupaten Kediri.
Di Sanggar Tari Flying Star Dance, Sadie menyaksikan dan ikut ambil bagian dalam 4 tarian yang dibawakan para siswa Flying Star Dance. Kelas A1 menampilkan tari Pitik Walik Kelas A2 membawakan tari Lenggang Nyai, Kelas B menampilkan tari Samira Santika kemudian Kelas C menampilkan tari Beksan Parisuko.
Semua siswa juga ikut menari bersama dalam tari Warisan Budaya. “Saya sangat menyukai tari ayam (pitik walik) bersama anak-anak. Itu sangat menyenangkan sekali,” ungkap Sadie lagi.
Tidak hanya tarian, Sandie Nolan juga mengenal budaya Kediri melalui motif khas Kabupaten Kediri yakni Gringsing dan Lidah Api melalui kain jarik yang ia kenakan untuk menari.
“Sadie tadi menanyakan apakah ada kain khusus untuk menarikan tarian ini. Tariannya memang perlu mengenakan jarik, tapi tidak ada jarik khusus. Kita berikan jarik khas Kediri agar kesan Kediri-nya lebih terasa,” jelas pemilik sanggar tari Flying Star Dance Gelar Gian Crismeril.
Meril, sapaan akrab Gelar Gian Crismeril berharap kedatangan Sadie bisa menjadi motivasi tambahan bagi anak-anak untuk lebih mencintai budaya bangsa sendiri di tengah gempuran budaya luar seperti Kpop.
“Agar tentunya mereka lebih mencintai budaya mereka sendiri. Yang dari luar negeri saja, kesini sangat tertarik dengan budaya kita. Kita juga punya tarian dan budaya yang bagus. Anak-anak juga bisa lebih semangat belajarnya. Di sanggar tari Flying Star Dance, kita ingin mengembangkan (tari) tradisi ini agar lebih atraktif dan anak-anak tidak bosan di dalamnya,” jelas Meril.
Hal senada turut diungkapkan Global Intercultural Coach BEC Kampung Inggris Pare Sri Indayatun. Dengan kehadiran sosok-sosok seperti Sadie diharapkan dunia internasional bisa lebih mengenal Indonesia lebih dalam, tidak hanya Bali.
“Kita ingin memperkenalkan, ini Indonesia yang sebenarnya. Indonesia itu bukan hanya Bali.
Kita punya Jawa, kita punya tarian yang bagus, kita punya peninggalan sejarah yang banyak juga di sini, tempat-tempat wisata juga.
Harapan kami, mereka bisa kenal Kediri Indonesia,” tuturnya.
Nantinya ketika kembali ke negara asalnya, Sadie diharapkan bisa menceritakan kembali tentang kekayaan budaya Indonesia dan Kediri kepada teman-temannya yang lain.
“Kita itu kaya dengan budaya, dengan bahasa yang beragam, tempat-tempat wisata yang indah, dan secara tidak langsung kita mempromosikan Indonesia ke kancah internasional,” pungkasnya. tam



