Begini Kata Pemkab Kediri Soal Korban Meninggal Dunia Akibat Kasus Demam Berdarah

satuwarta.id – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menanggapi adanya dua anak yang menjadi korban meninggal dunia akibat kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) beberapa waktu lalu.
Kepala Dinas Kesehatan Ahmad Khotib melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Bambang Triyono Putro membenarkan adanya dua korban penyakit DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti.
Menurutnya, kasus DBD yang berakibat meninggal dunia itu disinyalir terdapat keterlambatan dalam penanganan terhadap pasien. Pasalnya, korban baru mendapat fasilitas kesehatan (Faskes) dalam keadaan telah menurun.
Diketahui, dari dua yang menjadi korban kasus DBD, satu di antaranya mendapat penanganan Faskes sekitar tiga hari. Sedangkan satu korban lainnya belum genap 24 jam mendapat Faskes sudah dinyatakan meninggal dunia lantaran kondisi telah syok.
“Kasus meninggal dua orang, memang ada keterlambatan penanganan dimana pasien dibawa ke Faskes sudah dalam keadaan menurun,” kata pria yang akrab disapa Bambang, Kamis (28/3/2024).
Sebagaimana penyakit demam berdarah saat ini menjadi salah satu fokus pemerintah daerah untuk dapat mencegah korban berikutnya. Mengingat dengan kondisi cuaca sering hujan mengakibatkan lingkungan sekitar menjadi lebih lembab.
Menyikapi hal tersebut, Bambang menjelaskan Pemerintah Kabupaten Kediri terus menggerakkan masyarakat melalui Pemberantasan Sarang Ngamuk (PSN) sebagai upaya pencegahan nyamuk aedes aegypti berkembangbiak di lingkungan masyarakat.
Terutama menerapkan 3M Plus, meliputi Menguras, Menutup dan Mengubur, Plus gerakan satu rumah satu juru relawan pemantau jentik (Jumantik) secara berkesinambungan.
“Bila ada kasus sesuai dengan data dari Faskes yang diterima Dinkes, akan selalu diTL (Team Leader) dengan penyelidikan epidemiologi di lapangan. Dan bila ada risiko penularan akan dilakukan fogging oleh puskesmas setempat,” jelasnya.
Adapun, jumlah kasus DBD di Kabupaten Kediri selama 2024 mencapai 154 pasien. Dengan rincian, Januari sebanyak 42 kasus, Februari 64 kasus, dan Maret 48 kasus, per Kamis (25/3/2024).ind



