BERITA PILIHANNEWS

Sejarah Dibalik Penetapan HUT hingga Representasi Tagline Kediri Berbudaya

satuwarta.id – Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kediri telah ditetapkan 25 Maret sejak tahun 1985. Seiring berkembangnya zaman, Pemerintah Kabupaten Kediri gencar mengusung tagline ‘Kediri Berbudaya’ sebagai representasi dari banyaknya peninggalan sejarah di Bumi Panjalu.

Sebagaimana diketahui, representasi banyaknya peninggalan sejarah itu ditandai dengan penguatan menjaga tradisi, seperti dapat dijumpai adanya tradisi prosesi HUT dan pengambilan tujuh sumber mata air menjelang HUT berlangsung.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Adi Suwignyo melalui Kepala Bidang Museum dan Purbakala Eko Priyatno menyampaikan, pengambilan air dari tujuh sumber itu menunjukkan bahwa pemerintah daerah secara tidak langsung juga ingin melibatkan masyarakat desa dalam mensukseskan rangkaian HUT.

Di antaranya air tujuh sumber yang diambil prosesi di tahun 2024 yakni Adipati Panjer, Sumber Ubalan Polosoklaten, Sumber Sugihwaras Dukuh Ngadiluwih, Sumber dari lingkungan Makam Gus Miek Ngadi Mojo, Sumber Kembangan Paron Ngasem, Sendang Tirto Kamandanu Pamenang Pagu, serta sumber dari Desa Siman. 

“Tentunya ini memberikan multiplier effect. Mau tidak mau desa ikut terlibat. Jadi semangat untuk mendukung HUT menjadi kerasa banget,” kata Eko.

Di sisi lain, pengambilan air dari tujuh sumber berbeda tersebut juga merepresentasikan Kabupaten Kediri untuk mengingat sejarah Kediri dari masa ke masa. Pasalnya, penetapan HUT kala itu melalui proses yang cukup panjang.

Dijabarkan Eko, penetapan HUT Kabupaten Kediri awalnya diinisiasikan oleh Bupati Kediri Usrie Sastradiredja di tahun 1985. Dalam proses penetapannya mendatangkan narasumber dan sejarawan yang melampirkan bukti otentik berbentuk tulisan makalah.

Salah satu pemacu penetapan HUT Kabupaten Kediri yaitu merujuk pada makalah milik Profesor MM Sukarto Kartoatmojo. Dimana, beliau menemukan kata ‘Kediri’ untuk pertama kali pada Prasasti Harinjing di perkebunan kopi Onderneming Soekabumi, yang sekarang masuk wilayah Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung.

“Secara tertulis itu terlihat 11 Suklapaksa bulan Caitra 726 tahun Saka atau 25 Maret 804 Masehi. Atas dasar itu, maka hari jadi Kediri bisa ditentukan,” tutur Eko, terkait penetapan hari jadi Kabupaten Kediri.

Adapun pada waktu yang masih bersamaan, banyak sekali berbagai prasarana wilayah yang dibangun. Mulai dari penyematan nama Gedung Bagawanta Bhari, penyematan nama Bagawanta Bhari, penyematan museum Bagawanta Bhari, serta beberapa monumen tugu yang menyiratkan hari jadi Kediri.

Apabila dikorelasikan dengan sejarah penetapan HUT Kediri tersebut, Eko mengatakan, bahwa Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menginginkan Kabupaten Kediri kembali bernuansa budaya. Hal itu terbukti pada 2023 lalu, HUT Kabupaten Kediri ke-1219 mengangkat tema Sahitya Adhikara Budhaya atau Sinergi Membangun Kediri Berbudaya.

Artinya, tagline Kediri Berbudaya juga bisa ditafsirkan sebagai pemikiran dan akal budi dari sebuah masyarakat yang maju. Terlebih dalam era perkembangan teknologi, masyarakat Kediri diharapkan tetap mampu menjunjung tinggi luhurnya budi pekerti.

“Kediri Berbudaya manifestasinya tidak hanya kebudayaan secara tagline, tapi juga budaya tertib, disiplin, dan hidup sehat juga harus diperkuat,” harapnya.

Oleh karena itu, rangkaian HUT Kabupaten Kediri ke-1220 pada 2024 mendatang diharapkan mampu menampilkan untuk memenuhi kewajiban masyarakat dalam pelestarian kebudayaan. Mengingat pada tahun lalu, perayaan HUT mendapatkan antusias yang besar oleh masyarakat karena seluruh kegiatannya tak bersifat sentralistik.

“Sekarang disebar oleh Mas Bup (Bupati Hanindhito), di sana ada, di sini juga ada. Akhirnya semuanya mendukung untuk memenuhi kewajiban kita dalam pelestarian kebudayaan,” pungkas Eko.ind

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close