Bekali Guru Pendamping Siswa Inklusif Ilmu Baru

satuwarta.id – Pendidikan inklusif selama ini memiliki banyak tantangan. Di tengah pandemi saat ini tantangan dalam pembelajaran inklusif turut makin besar. Membantu para guru inklusif menyesuaikan diri dengan kondisi pembelajaran saat ini, Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Pendidikan menggelar Program Pendampingan Penyelenggaran Pendidikan Inklusif di Kota Kediri.
Diikuti 50 guru dari seluruh SD SMP yang memiliki pendidikan inklusif, kegiatan ini dipandu narasumber dari Universitas Brawijaya, kegiatan ini dilangsungkan di aula Dinas Pendidikan Kota Kediri, Sabtu, (16/10/2021).
Di kota Kediri sendiri saat ini ada 17 SD, dan 5 SMP yang memiliki kelas pendidikan inklusif. Sementara itu ada sekitar 500 anak yang tergabung dalam pendidikan inklusif.
” Kegiatan ini untuk meng-upgrade keilmuan inklusi pada guru pendamping. Karena guru-guru pendamping inklusi di Kota Kediri sudah lama sekali tidak tersentuh oleh bimbingan dan latihan. Dengan kegiatan ini ada pembaruan-pembaruan tertentu yang yang nantinya bisa diterapkan saat mendampingi siswa-siswi inklusi nanti, “tukas Kepala Bidang Pendidikan Dasar Ibnu Qoyyim.
Ibnu mengatakan pendidikan anak-anak yang berkebutuhan khusus beda dengan anak-anak reguler. Dengan karakter dan kebutuhan anak yang berbeda setiap guru harus memahami satu per satu anak inklusi.
” Itu yang berat. Memahami latar belakang. memahami kemampuannya, memahami keinginannya. Nantinya dari pelatihan ini, para guru diharapkan bisa membantu anak-anak inklusif untuk mendapatkan keilmuannya untuk membangun karakter dan literasi, ” tutur Ibnu lagi.
Sementara itu menurut Ketua Pelaksana Dosen Berkarya Pendampingan Pelatihan Pendidikan Inklusif Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Alies Poetri Lintangsari pelatihan dilakukan dengan konsep sharing dan diskusi.
Dalam pelatihan, para narasumber berbagi metode analisis siswa disabilitas dengan konteks inklusif dan mengenalkan sejumlah media pembelajaran dan penggunaan teknologi pembelajaran yang aksesibel untuk siswa dengan disabilitas.
” Pelatihan ini terdiri dari 4 rangkaian pertama sampai ketiga sudah dilaksanakan secara daring dan sekarang itu merupakan penutupnya. Kita sharing pengalaman memfasilitasi siswa dengan disabilitas seperti apa. Di akhir pelatihan ada diskusi sedikit dan dari diskusi itu akan ada formulasi rekomendasi layanan disabilitas di tingkat pendidikan dasar menengah,” tukas Alies Poetri Lintangsari. bby



