satuwarta.id – Pemerintah terus mengingatkan masyarakat untuk selalu menjaga protokol kesehatan secara tertib dan disiplin.
Protokol kesehatan di Indonesia sendiri, menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Soedjatmiko belum dapat dilonggarkan dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah angka kematian karena COVID-19 yang meningkat terus sejak Januari hingga 27
Februari 2022.
“Bulan Desember angka kematian setiap hari di bawah 10 orang. Mulai akhir Januari setiap hari kematian meningkat terus, sampai akhir Februari menjadi sekitar 250-300 kematian setiap hari di Indonesia,” papar Soedjatmiko yang juga akrab dipanggil Prof Miko, Senin (28/02/2022).
Hal tersebut, dikatakannya, menunjukkan bahwa proses penularan masih hebat di Indonesia. Begitu pula risiko sakit berat dan kematian karena COVID, masih tinggi.
“Terutama bagi lansia dan yang belum divaksinasi COVID atau belum lengkap,” imbuh Prof Miko.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa angka positivity rate di Indonesia juga masih meningkat.
“Positivity rate 33 provinsi sampai 26 Februari 2022 masih di atas 5%, dengan kisaran 7 sampai 28%, hanya provinsi Maluku 2,9%. Artinya penyebaran dan penularan di 33 provinsi masih tinggi dan
cepat,” ujarnya.
Dalam kondisi penularan masih tinggi dan cepat, positivity rate lebih dari 5% di 33 provinsi (26/2), serta angka kematian meningkat terus setiap hari, maka protokol kesehatan masih sangat diperlukan
sebagai perlindungan masyarakat.
“Kalau dilakukan pelonggaran protokol kesehatan, maka akan terjadi lonjakan peningkatan kasus yang tidak terkendali. Rumah sakit akan kewalahan, angka kematian di isoman (isolasi mandiri) dan
di rumah sakit akan meningkat tajam,” kata Soedjatmiko.bby



