Haul ke-28 Bani H Ilhar, Sambung Silaturahmi Pererat Persaudaraan

satuwarta.id – Haul ke-28 Bani H. Ilhar yang digelar pada Ahad, 13 Juli 2025 atau bertepatan dengan 17 Muharram 1447 H berlangsung penuh keakraban di antara keluarga besar yang hadir.
Mengangkat tema *Menyambung Silaturahmi, Mempererat Persaudaraan”, acara kali ini diselenggarakan di kediaman Hj. Hindun (istri H. Afandi), putri dari Hj. Maesaroh, cucu dari Hj. Rukoyah (Hj. Minten) Jabon, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.
Acara dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan lantunan sholawat dari para anak cucu Mbah H. Ilhar. Sambutan dari koordinator panitia disampaikan oleh Drs. Ibnu Hajar, M.Pd.I, yang juga mewakili sohibul bait. Acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil, mauidhoh khasanah oleh Gus Faiz Khusnul Khitam, santunan anak yatim dari keluarga besar, dan ditutup dengan doa bersama.
Dalam sambutannya, Drs. Ibnu Hajar mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh keluarga besar. Ia juga menyampaikan penghargaan khusus kepada rombongan dari Salatiga, Jawa Tengah — kampung halaman Mbah H. Ilhar — yang turut hadir dan memeriahkan haul tahun ini.
“Terima kasih telah meluangkan waktu untuk hadir dan bersilaturahmi. Kami juga ucapkan terima kasih kepada rombongan dari Salatiga yang telah hadir dan menghormat acara Haul ke-28 kali ini,” ujarnya, sebelum melanjutkan pembacaan silsilah keluarga Mbah Ilhar.
Mbah H. Ilhar, atau dikenal juga sebagai Mad Lehar, adalah putra dari Mbah Mad Sari bin Tirto yang berasal dari Kedung Mandek, Desa Pabelan, Salatiga, Jawa Tengah. Beliau memiliki 10 anak yang kemudian menetap di berbagai daerah seperti Grompol, Pojok, Banjarsari, Jabon, dan Sumatera. Dari keturunannya yang tersebar luas ini, kini ribuan dzuriyah Mbah H. Ilhar membentuk wadah silaturahmi keluarga melalui agenda tahunan haul yang rutin digelar setiap bulan Muharram.
Ibnu Hajar juga menjelaskan bahwa Mbah Ilhar sempat menuntut ilmu di Pondok Pesantren Ngejen (PP. Isyhar) Grompol, Prambon, Nganjuk bersama kakaknya Ahmad (Mbah Kemad). Setelah kakaknya wafat, beliau menikah dengan Siti Aisyah (Ngaisah) dari Grompol, yang tinggal di selatan MA Al-Manar Tanjung Tani Prambon.
Sementara itu, dalam mauidhoh khasanah-nya, Gus Faiz Khusnul Khitam menyampaikan nilai-nilai penting yang bisa diambil dari acara haul. Ia menekankan bahwa keberkahan dari leluhur seperti Mbah H. Ilhar membawa dampak positif bagi keturunannya.
“Alhamdulillah, ini merupakan nikmat yang harus kita syukuri karena barokah dan tirakatnya Mbah Ilhar. Mudah-mudahan menurunkan anak cucu yang mina sholihin. Karena tirakat beliau, kita para anak cucu dimudahkan dalam hidup,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa orang tua dan leluhur yang telah wafat masih bisa mendoakan anak cucunya dari alam kubur. Maka dari itu, sebagai dzuriyah, penting untuk terus mengirim doa dan menjaga tali silaturahmi.
“Di antara barokahnya silaturahmi itu, rizkinya akan banyak dan barokah, menimbulkan rasa keakraban dan kasih sayang antar keluarga, serta diberikan umur yang barokah. Karena dengan kumpul seperti ini akan tercipta mahabbah dalam menguatkan persaudaraan,” tambahnya.tam



