Waspadai LSD, DKPP Kabupaten Kediri Himbau Peternak Lakukan Hal Berikut

satuwarta.id – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) memberikan imbauan setelah menemukan kasus puluhan sapi terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD).
Sebanyak 27 sapi terjangkit Virus LSD di Kabupaten Kediri. Ditemukan ada 5 kasus di Kecamatan Banyakan, 1 kasus di Kecamatan Grogol, 9 kasus di Kecamatan Kayen Kidul, 4 kasus di Kecamatan Pagu, 1 kasus di Kecamatan Papar, dan 7 kasus di Kecamatan Plemahan.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Tutik Purwaningsih melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Yuuni Ismawati membenarkan adanya puluhan sapi terserang Virus LSD.
Dijelaskan, Virus LSD ini berbeda dengan Virus PMK , meski sama-sama menyerang hewan ternak. Virus LSD disebabkan oleh serangga lalat, nyamuk, dan caplak penghisap darah dengan menyerang bagian kulit hewan.
“Virus LSD lebih menyerang ke kulit seperti ada benjol-benjol dan bisa menular ke hewan ternak yang lain,” kata Yhuni, Minggu (09/06/2024).
Penyakit yang diakibatkan virus pox itu menular secara tidak langsung. Biasanya penularan terjadi melalui peralatan kandang, tingkat sterilisasi jarum suntik, penyebaran vektor serangga, bahkan adanya perpindahan lalu lintas hewan ternak ke daerah lain.
Meskipun Virus LSD ini tak memiliki tingkat risiko kematian yang tinggi pada hewan seperti Virus PMK, Yuni tetap mengimbau supaya peternak rutin membersihkan kandang ternak dan membatasi akses orang yang masuk kandang.
“Kalau kandang kotor serangga nyamuk, lalat, caplak akan begitu banyak. Berbeda kalau perawatannya bagus, kandang bersih, sering disemprot pasti akan lebih meminimalisir,” saran Yhuni.
Terlebih, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan juga intens memberikan pemahaman kepada peternak terkait pentingnya vaksin LSD maupun PMK pada hewan. Sebab, pemberian vaksin menjadi salah satu upaya peningkatan kesehatan dan kekebalan tubuh pada hewan ternak.
“Untuk Virus LSD jenis vaksinnya berbeda (dengan PMK),” ucapnya.
Selain itu, Yuni juga memberikan imbauan terkait antisipasi penyakit Brucellosis pada hewan ternak sapi. Penyakit tersebut disebabkan adanya bakteri yang ditularkan secara langsung maupun tidak langsung melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi.
Yang mana, ditandai keluron atau keguguran pada trimester terakhir, pedet lahir mati atau lahir lemah, jarak beranak lebih lama, serta penurunan produksi susu.
“Kalau ada terjangkit penyakit Brucellosis, sesuai SOP (Standard Operating Procedure) itu harus disembelih. Organ, saluran pencernaan, dan reproduksinya harus dimusnahkan,” pungkasnya.ind



